Tuesday, November 27, 2012

Serah terima Kades Hans kepada Kades Terpilih Ibay Benz

 
 
Teman2 sahabat DEAR,
Terimakasih yah, sudah ikut menyemarakkan event [Pilkades Rangkat].
Terimakasih atas postingan-postingannya selama event ini berlangsung. Total ada 26 tulisan yang dipublish selama event ini.

Event [Pilkades Rangkat] ini adalah metode kita untuk mencari Kades kita yang baru. Dan dari postingan-postingan tersebut kita telah mendapatkan sahabat kita yang dipercaya untuk berpera
n sebagai Kades dan Wakades di DESA ini. Mereka adalah Kades Ibaybenz Andromeda Eduard dan Wakades Asih Rangkat.

Terimakasih juga untuk para calon-calon Kades lainnya yang telah berpartisipasi sebagai calon-calon yang dipilih kemarin. Erwin Syahputra dan Sekar Mayang, telah sudi untuk mencalonkan dan dicalonkan. Ini bukanlah sebagai kompetisi mencari siapa yang terbaik, tapi ini adalah salah satu cara kita memainkan peran di DESA kita.

Saturday, November 24, 2012

Bang Ibay [Pilkades Rangkat]



I bay Benz…. Adalah namanya.

B ang Ibay…!! Demikian aku selalu menyapanya.

A da banyak keceriaan jika duduk bersamanya…

Y ang membuatnya selalu dirindukan oleh adik-adiknya di DESA RANGKAT.

Ini bukan tulisan tentang Episode Cinta Rangkat. Bukan pula sedang menabuhkan genderang perang Flash Fiction. Tapi ini adalah tulisan dalam rangka semarak pesta Demokrasi di Desa Rangkat. Lewat tulisan ini Aku menitipkan satu suara untuk Bang Ibay. Agar melanggeng menjadi Kades di tahun ke-3 di DESA tercinta.


Saturday, November 17, 2012

[Desa Rangkat Kompasianival] Dari Pos Ronda Kami Menyapa

Beberapa komunitas yang berperan serta dalam Kompasianival 2012

Menghadirkan Pos Ronda Desa Rangkat di Skeeno Hall Gandaria City pada Kompasianival 2012 bukanlah tanpa makna. Bagi Komunitas Desa Rangkat, Pos Ronda adalah simbol kebersamaan dan kesederhanaan. Di Pos Ronda inilah tempat berkumpulnya warga, saling asah asih dan asuh dalam diskusi berbagai hal. Terutama dalam hal bidang tulis menulis, minat kesusastraan, dan berbagai diskusi untuk rencana kegiatan sosial.

 Dalam interaksi maya melalui media online, kami menganalogikan pengadaan Pos Ronda Desa Rangkat di ajang ini dengan istilah memindahkan sementara Pos Ronda dari Desa ke Gandaria. Jika diceritakan dengan bahasa fiksi, semua warga Desa bergotong royong mengangkat Pos Ronda, lalu menaikkannya ke atas truk yang sudah menunggu di kantor Desa, dan melepasnya untuk dibawa ke Jakarta. Beberapa warga yang ditunjuk sebagai Duta Rangkat untuk Kompasianival 2012 juga dilepas bersamaan dengan keberangkatan Pos Ronda.

Thursday, November 15, 2012

Pos Ronda di Kompasianival 2012


Komunitas yang akan memeriahkan Kompasianival 2012


“Loohh…? Toloooong…!! Ada gempa bumi..!!” Inin Kribo terlonjak dari dengkuran panjangnya.
Sambil membenarkan sarung kotak-kotak lusuhnya, Inin Kribo belingsatan mencari sandalnya. Matanya masih setengah membuka, antara sadar dan tidak. Karena limbung, kembali Inin Kribo jatuh terlentang.
“Wooii, Kang Kribo…! Jangan panik, ini bukan gempa bumi….!” Fietry berteriak sambil terkekeh riang.
Inin Kribo tetap belum menyadari apa yang telah terjadi. Dirinya semakin heran karena singgasana Pos Ronda tempatnya mendengkur pagi itu selepas sholat Subuh diangkat warga beramai-ramai. Rombongan warga yang dikomandani Bocing beserta pasukannya, Pongky, Fietry, Cupi, Fidia, Windu, dan warga desa lainnya terus bersemangat mengangkat Pos Ronda. Lalu memindahkannya ke atas truk yang sudah menunggu di halaman kantor Desa.
“Looohh ini Pos Ronda, teh…. Mau dibawa kemana?” Inin Kribo semakin heran.
“Mau dipindahkan dulu sementara, ke KOMPASIANIVAL…!!” teriak pak RT Ibay sambil memberi aba-aba.

Saturday, November 10, 2012

[FF100K] Fahmi dan Jimat Kebal Anti Bedil





“Sampeyan jangan sok jago…!! Kalau menyerang Londo ikuti perintah Komandan..!!” Rizal memarahi Fahmi.
“Dibedil Londo, sampeyan bisa modar..!!” Inin menambahkan.
“Wong edan…!!” sungut Bocing ikut memarahi.
Mereka adalah para pejuang kemerdekaan dari Desa Rangkat. Markas musuh di perbatasan desa mereka bumi hanguskan, dengan Fahmi sebagai bintang peperangannya. Dia masuk menyerbu ke markas musuh sendirian, padahal Komandan Ibay belum memberikan perintah untuk menyerang. Untung saja saat itu pasukan musuh sedang lengah. Tidak siap dengan serangan tiba-tiba.
“Aku ora takut modar…!! Kan ada ini..!!” Fahmi membuka bajunya, dan menunjukkan kalung jimatnya.
“Jimat kebal anti bedil, dari Ki Dalang…” lanjutnya sambil terkekeh riang.

[FF100K] Fahmi Si Pejuang Berani Mati



Flash Fiction 100 kata di Hari Pahlawan

Gambar dari sini

******
BUUGG..!! Satu hantaman kembali bersarang di rahang Fahmi. Namun Fahmi berusaha untuk tetap tersenyum. Meski tubuhnya lunglai terikat, namun semangat perjuangannya tetap menggelora.
“Hei, ekstrimis Republik…!! Di mana kamu punya pasukan bersembunyi..?” Jenderal Willem mengulang pertanyaannya. Muka sang Jenderal begitu dekat, hingga Fahmi bisa mencium aroma Voddka dari mulutnya.
“Piiuuhhh….!!” Fahmi meludah, tepat bersarang di muka sang Jenderal.
“Aku tidak akan pernah menghianati pasukanku. Kesetiaanku adalah harga mati untuk Republik ini…!!” lantang Fahmi berteriak.
“Kurang ajar…!!” Jenderal Willem mengeluarkan pistolnya.
“Tembak saja..!!”
DOORR..!!
Pistol sang Jenderal memuntahkan pelurunya. Fahmi tersungkur. Satu lagi anak Negeri telah mati demi sebuah harga. Kemerdekaan.
******
* FF 100 kata lainnya di Hari Pahlawan: Fahmi dan Jimat Kebal Anti Bedil

Thursday, November 1, 2012

Ketika kita Bicara Cinta





Bandung menjelang petang, pada Jumat 19 Oktober lalu. Tepat sehari sebelum Komunitas DESA RANGKAT merayakan hari ulang tahunnya yang ke-2. Lalulintas padat merayap langsung menyambut ketika kendaraan travel yang membawaku dari bandara Soeta Jakarta keluar dari pintu tol Pasteur. Ke arah Lembang kendaraan menuju. Patokanku adalah Rumah Sosis di jalan Doktor Setiabudi. Dari sana nanti Aku akan menelpon untuk dijemput teman-teman Rangkaters yang sudah lebih dulu tiba di villa Lentera Merah, yang letaknya tidak jauh dari Rumah Sosis. Villa Lentera Merah adalah tempat teman-teman Komunitas DESA RANGKAT tahun ini akan berkumpul.
“Ini Rumah Sosisnya, Sep. Asep mau turun di sini..?” tegur sopir dengan logat Sunda kentalnya.
“Ya, ya.. di sini..!!” sahutku riang. Panggilan “Asep”, “Acep”, ataupun “Cep” dari pak sopir padaku telah membuatku melambung. Seketika nuansa Sunda merasuk jiwaku. Bandung… Asep datang…!!
Tak lama menunggu, Pongky sang Kompasianer Jakarta datang menjemputku dengan sepeda motor. Jabat tangan dan pelukannya begitu hangat.
Sesampai di villa Lentera Merah, Dorma Situmorang, si adik manis yang kebagian menjadi tuan rumah Kopdar Akbar kali ini telah menungguku di teras. Tidak banyak yang berubah pada raut wajahnya. Persis seperti Juli tahun lalu ketika kami bertemu di kota ini sepulangku dari Kopdar Akbar Desa Rangkat di Yogya. Smart, polos, dan apa adanya adalah karakter menonjol pada pribadinya.
“Mas Hans… Akhirnya kita ketemu lagi..!!” sambutnya dengan pelukan hangatnya.

Thursday, October 11, 2012

Selamat Pagi, Natasha…



Seperti biasanya, pagi ini langkahku begitu ringan. Menyusuri tiap koridor yang bernuansa minimalis. Dua belokan lagi aku akan tiba tepat di depan pintu ruangan kantormu. Tak sabar hati ini ingin segera melihat lengkung senyummu. Seperti pucuk pohon yang selalu merindu sang mentari di awal pagi.



Monday, September 24, 2012

[FF100K-RCS] Di Sebelah Kembang



Hans memeriksa kembali daftar nama peserta Kopdar Akbar HUT Desa Rangkat yang akan berangkat ke Bandung. Daftar nama itu disusun berdasarkan tempat duduk di bus yang akan mereka sewa. Kopdar dengan tema “Rangkat Cinta Sederhana” itu akan dilaksanakan pada tanggal 19-21 Oktober nanti.
“Ibay dan Jingga, Aya dan Bocing, Yety dan El, Kembang dan Rizal…… What`s…..??!!” Hans berteriak kaget.

Friday, September 14, 2012

[FF100K-RCS] Icha dan Logika Rasa





“Belantara ini terlalu rimbun, tiap dahannya terlalu rumit untuk diurai. Aku khawatir kelopak-kelopak bunganya akan terberai ketika coba digapai…” ceracau Hans.
“Rumit amat, mas…” sungut Icha kesal.
“Andai kelopaknya terjatuh, lalu terberai luluh lantak…. Apakah mahkotanya masih terlihat anggun…?” Hans terus berceracau.

Wednesday, September 12, 2012

[FF100K] Rasa Ini





Adakah diam yang tidak ambigu…? Bagaimana Aku menikmati rasa, jika diam-mu bias tanpa sketsa…?” runtutan tanyamu sesaat sebelum berlalu.
Dirimu dan kotak hijau-mu beranjak menjauh, mengecil, lalu lenyap di ujung senja. Bersama keping-keping rasa yang terlanjur terserak. Aku hanya terdiam, meski raga menggodaku untuk beriak. Keping rinduku dan keping harapku kini berpendar dalam balutan absurd tak berbentuk, luluh lantak.

Monday, September 10, 2012

[FF100K-RCS ] Bias Ambiguitas

 
gambar dari sini

Kisah ini memang tidak seheroik panggung operanya Romeo dan Juliet karya William Shakespeare. Juga tidak seromantis intrik-nya Mark Antony, yang jatuh hati pada Cleopatra, si ratu cinta dari Mesir.
Jangan pula berharap Aku bisa memberikan seperti yang Shah Jahan berikan pada Mumtaz Mahal. Untuk membangun makam agung untuk jasadnya berupa Taj Mahal. Aku juga tak mampu memerankan tokoh seorang Yusuf yang mampu menolak moleknya Zulaikha.

Saturday, September 8, 2012

[FF100K-RCS] Sederhananya Rasa



Pada rimbunnya belantara aksara, pada tiap bait imajinasi bermakna, dan pada sekat spasi kata-kata, Aku menemukan cinta itu memang ada. Mengalir jernih pada aliran diksi, dan bermuara pada lantunan fiksi. Tumbuh subur di ladang-ladang hamparan puisi. Dan bermekaran pada petak-petak narasi Pujangga kata.
Rangkaian kata bertutur cinta, bersapa empati, dan berwujud peduli. Adalah awal dari eksistensi kita. Sapa bersahut dan tutur saling berpagut. Menggoda rindu untuk terus bergelayut. Saling bercerita tentang sederhananya cinta. Saling berbagi tentang rasa yang kita punya. Disana, di lembah fiksi sebuah desa maya. Di kaki gunung Naras di ujung sana. Dalam tiap episode Rangkat Cinta Sederhana.

Sunday, August 12, 2012

[ECR-5] Merelakan Ranti



Postingan kisah ECR-5 yang terkait sebelumnya: Ma, Aku Mau Menikah (oleh Yety ursel), Di Atas Sejadah Mama (oleh El Hida)
Andai semua mimpi dapat terwujud indah, maka aku akan bermimpi se-mau yang aku suka. Andai semua angan dapat kugapai tanpa cela, maka akan kutembuskan anganku melewati batas cakrawala. Memilikimu adalah mimpi yang terindah. Dan melabuhkan hati padamu adalah pengharapanku yang sebenarnya. Tapi merelakanmu adalah hal terhormat dalam wujud kelelakianku. Selain sebagai bentuk pertanggungjawabanku atas segala duka penantianmu.
Ketakutanku bukan pada masa lalu. Karena masa lalu adalah torehan waktu yang tak dapat kembali kurengkuh. Ketakutanku adalah ketika datangnya sang waktu yang akan membawamu berlalu. Kemudian menempatkanmu pada batas sekat yang bernama aturan, etika dan logika. Dimana aku diharamkan untuk menyibak dan menembusnya.

Wednesday, August 8, 2012

[FF] Maaf, Aku Ada Diantara Kalian



Waktu berbuka puasa tinggal setengah jam lagi. Setelah antri mengambil makanan dan membayarnya di kasir, Fahmi bergegas mencari kursi kosong. Tapi dirinya kurang beruntung, semua kursi telah terisi penuh.
“Silahkan ke sebelah sana, Bang… Masih bisa kalau buat Abang sendirian..” seorang pelayan menyapanya sambil menunjuk ke arah pojok belakang restoran cepat saji itu.
Fahmi berjalan mengikuti arah telunjuk sang pelayan. Nampan makanan berisi nasi, dua potong Ayam goreng, semangkuk kecil sop bening, dan sebotol air mineral dibawanya dengan hati-hati. Mata Fahmi memandang sekeliling, mencari kursi kosong yang dimaksudkan.

Tuesday, August 7, 2012

Kupu-kupu untuk Jingga




*) Jingga Rangkat
____________________
“Lihat itu…!! Kamu masih ingat nggak…?” Hans menunjuk seekor Capung yang hinggap di tangkai bunga Gladiol.
Mata Jingga mengikuti arah telunjuk Hans. Keningnya berkerut kebingungan. Tidak mengerti apa yang Hans maksudkan.
“Capung….?” bibir Jingga bergumam.
“Iya…. Capung itu..!”
Kembali mata Jingga menatap Capung itu.
“Ah, nggak ngerti. Aku nggak ingat…” Jingga menyerah.
“Oke, kalau yang itu…?” Hans menunjuk seekor Kupu-kupu pada pucuk bunga Gladiol lainnya.

Monday, August 6, 2012

Pada Tapak Jejak Eksotis Gurun



menapak jejak mengarungi hamparan gurun



Pada hamparan luas yang seakan tak berbatas. Sejauh mata memandang hanyalah hamparan gersang. Kering, tandus, panas, garang, dan penuh perjuangan, itulah kesan yang tersematkan. Manakala kaki mulai melangkah menapak mengarungi beratnya perjuangan di gurun yang seperti ruang tak bertuan.
Sejauh kaki mengayun, sekuat nafas bertahan, hidup di gurun adalah perjuangan. Mencari aura romantisme kehidupan gurun bagaikan memendam kerinduan yang tertahan. Pesona romantisme sejenak terkalahkan oleh beratnya perjuangan untuk bertahan. Hanya yang terkuat dan mampu menyesuaikan dengan alam gurun yang mampu bertahan.

[ECR-5] Bau Kepiting Juragan Gadungan




*) Bocing dan Ranti (doc. Desa Rangkat)
___________
Dua jam sudah Hans dan Dorma, Hansip wanita keamanan khusus balai desa menunggu, namun Ranti masih belum juga kelihatan batang hidungnya. Dorma selalu berdiri setiap kali ada suara motor menderu di jalanan, berharap itu adalah El Hida yang berboncengan dengan Ranti. Perutnya sudah bersenandung riuh menahan lapar. Bayangan Ranti yang datang membawa rantang makanan siang bermain di imajinasinya.
“Kok kakak Ranti masih belum nongol? Sudah lapar tingkat akut, nih…” Dorma menggerutu.
“Kamu susul ke rumahnya, deh. Jangan-jangan Ranti kelupaan…” perintah Hans.
Tanpa menunggu perintah kedua kali, Dorma langsung berangkat. Tinggal Hans seorang diri di kantor desa dengan perut yang mulai bergemuruh nyaring. Tangannya sibuk berulangkali memencet HP jadulnya. Nomor HP milik Ranti yang dihubunginya selalu memberikan jawaban bahwa ponselnya sedang tidak aktif.

Sunday, August 5, 2012

[ECR-5] Pada Serpihan Hati Jingga dan Ranti




*) Sebagian pemeran ECR di postingan ini (doc. Desa Rangkat)
Suasana kantor desa yang lenggang makin terasa senyap ketika Cicie Kim Foeng juga berpamitan untuk pulang. Memang sudah waktunya bagi pegawai kantor desa untuk mengakhiri tugasnya melayani masyarakat hari ini. Cicie Kim Foeng yang biasanya hanya bertugas membantu Acik dalam mengagendakan kegiatan-kegiatan kepala desa, kini harus merangkap tugas ganda. Kadang harus menggantikan Asih sebagai sekretaris desa, kadang juga menggantikan Acik sebagai sekretaris pribadi kepala desa.

Tuesday, July 31, 2012

[FF100K] Selamat Menikah, Natasha



Kalimat Ijab Qobul itu mengalun sakral sangat sempurna. Ijab Qobul ini telah mengakhiri segala derita penantian tak berkesudahanmu pada diriku. Sekaligus mengakhiri segala kepengecutanku yang selalu mengulur-ulur waktu. Keabsahan kalimatnya telah mengangkatmu pada jenjang yang terhormat. Sebagai Natasha yang kini punya seorang Imam yang akan mendampingi hidupmu. Meskipun itu bukannya aku

Monday, July 9, 2012

[FF] Pada Ijab Qobul-ku




Alunan ayat suci mengalun syahdu. Menelusuri rongga-rongga jiwa, hingga menyentuh dasar kalbu. Pada wajah-wajah semeringah dalam sungging senyum bahagia. Pada tatapan teduh menebar restu yang berbingkai doa. Dan pada keheningan tafakur dalam tiap bait alunan sang Qori.
Saat bahagia itu makin dekat dalam rengkuhku. Saat dimana aku akan mengikhlaskan ragaku. Untuk menjadi pendamping bagi seorang lelaki yang sebentar lagi akan menjadi Imam dalam kehidupanku. Aku teramat bahagia menjelang prosesi Ijab Qobul-ku.

Aksara Cinta di Lembah Fiksi

Dari ECR ke panggung Kompasianival 2011 (doc. Desa Rangkat)  


Bagaikan cendawan di musim hujan, yang akan tumbuh dan bermekaran dimana-mana. Kehadiran cinta di desa Rangkat juga terus tumbuh dan bermekaran di setiap pelosoknya.
Ada penantian cinta di kediaman pak Nov, sang novelis Rangkat. Dua orang anaknya yaitu Asih dan Acik, keduanya sama-sama sedang dilanda gelombang cinta. Harapan dan pengharapan dari seorang Firman telah membuat keduanya melayang. Kemanakah cinta Firman akan berlabuh? Terlalu dini dan dangkal untuk merabanya sekarang. Cinta sepenuh hati adalah peran hidup yang teramat sejati. Butuh perjuangan dan keteguhan hati untuk memilih.

Tuesday, July 3, 2012

[FF] Pada Cinta Jalanan



* Lirik lagu
______________
Kisah cinta kita memang tidak seheroik kisah cintanya karya William Shakespeare. Panggung opera Romeo dan Juliet-nya terlalu agung untuk kita tandingi. Juga jangan bandingkan kisah cinta kita ini dengan intrik romantisnya Mark Antony, sang jendral Romawi. Yang jatuh hati pada Cleopatra, si ratu cinta dari Mesir. Meski akupun sama seperti mereka, rela melepas raga demi penyatuan hati ini.
Jangan pula berharap aku bisa memberikan sesuatu yang megah untukmu. Seperti yang Shah Jahan berikan pada kekasihnya, Mumtaz Mahal. Untuk membangun makam agung bagi jasad istrinya berupa Taj Mahal di tepian sungai Yamuna, di Agra yang nun jauh di sana.

Tuesday, June 26, 2012

[WPC-10] Merdeka dalam Gelap



.FF penghantar WPC-10: Fine Art Photography:

 Merdeka dalam Gelap



  “Teruslah bertahan, semakin ke dalam gua, kita akan aman…!!” ucap Nito sambil memapahku.
Aku berjalan terseok sambil bergelayut di bahunya. Pandanganku gelap.
“Di sini gelap. Kita aman di sini, Belanda itu tidak akan berani masuk,” Nito menenangkanku.
“Bagaimana keadaanmu..?” lanjutnya kemudian.
“Sepertinya peluru itu bersarang di bahuku,” aku merasa nyeri, tubuhku basah karena darah.
Hampir saja kami dibinasakan oleh mereka. Ketika patroli Belanda itu memergoki kami tengah menimbun ranjau bom yang ketiga. Kami berhasil kabur, namun satu peluru yang mereka muntahkan terlanjur bersarang di bahuku.

Saturday, June 16, 2012

[WPC-9] Kaos Oblong





Kaos oblong…. Dalam tulisan kali ini saya mencoba menulis tentang kaos oblong, sesuai dengan tema Weekly Photo Challenge kita kali ini, yaitu Fashion Photography.
Kaos oblong adalah pakaian idolaku sehari-hari. Senang mengenakannya karena kaos oblong desainnya sangat simpel, nyaman dipakai, budgetnya cukup bersahabat dengan isi kantong, dan gampang untuk dicuci. Serta satu hal lagi yang aku suka dari kaos oblong adalah, pilihan corak untuk gambar-gambar desainnya banyak yang menarik dan bikin senyum-senyum sendiri.
Berikut adalah beberapa foto hasil jepreten alakadarnya sewaktu berburu kaos oblong di Palembang beberapa waktu lalu. Lihat foto kaos oblong di bawah ini yang bertuliskan;
“Siapa bilang orang Palembang gak bisa huruf “R”. Bahaso Engges bae pacak”.

Thursday, June 7, 2012

[PM-FF] Pada Senja yang Jingga





Gemuruhnya seakan menenggelamkan suara mereka. Jatuhan airnya berdebum menghantam bebatuan. Menciprati tubuh keduanya. Senja yang jingga di Desa Rangkat.
“Adakah cinta yang tak pernah berakhir…?” Acik bertanya.
Yudha tersenyum penuh makna.
“Lihatlah.…” Yudha menunjuk ke arah air terjun.
Acik menengadah.

Tuesday, June 5, 2012

[PM-FF] Kandas Cinta Gara-gara Dukung Sriwijaya



Pongky urung mengetuk pintu kantor balai Desa Rangkat. Ketika dua pemuda gondrong berkostum biru bertuliskan “Bobotoh PERSIB” menghampirinya.
Jang…., manĂ©h pendukung PERSIJA, kan…??!!”
Seketika Pongky teringat kerusuhan dua kelompok supporter ini minggu lalu.
“Saya…. pendukung SRIWIJAYA…” Ponky berkilah, tak mau mati konyol.
Ulah sieun, PERSIB cinta damai. Maneh anak PERSIJA, kan…?” si gondrong menunjuk tulisan tato “The Jack” di lengan Pongky.
“Pokoknya anda sopan, aing segan. Anda nekat, aing sikattt…!!” timpal si gondrong lainnya.
Mereka bersalaman.

Friday, June 1, 2012

[PM-FF] Akhir Perselingkuhan



[PM-FF] Akhir Perselingkuhan
Oleh: Hans Rangkat (no.22)

Rinai gerimis masih tersisa di luar sana. Udara dingin berhembus pelan, membawa aroma hutan pinus dari arah gunung Naras(i). Semburat pelangi nampak di ufuk sana. Sore yang indah di Desa Rangkat untuk dinikmati, andai saja sesuai dengan peran yang diingini.
Kembali Aya mengusap bulir bening di matanya. Jantungnya terus bergemuruh tak karuan. Namun hati kecilnya terus membisikkan satu keputusan. Hubungan ini harus diakhiri.

Tuesday, May 29, 2012

[FF] Bukan Sebatas Kedatangan untuk Icha





“Kamu adalah ketakutanku akan cinta. Kamu adalah ketidakakuanku akan sayang…” kata-katamu begitu menikamku, membuatku terasa tertusuk. Bagaimana lagi Aku harus meyakinkanmu? Aku tersudut pada pojok tanpa sketsa, di mana Aku tak bisa berkata-kata.
“Aku di sini tetap memaknai cinta yang hanya sebatas kedatanganmu saja…” lanjutmu sambil mempersilahkanku untuk berlalu. Panggilan untuk boarding itu seakan mendukungmu. Di ujung sana, pesawat itu telah menunggu untuk menerbangkanku menjauh dari Jakartamu.

[FF] Aku Jemput Jandamu


Hari sudah gelap ketika Aku tiba di terminal Desa Rangkat. Aku langsung menuju ke warung kopi milik sahabat lamaku.
“Tidak bisakah Kau datang menemuinya bulan depan..?” sambutan Budi si pemilik warung kopi terdengar ketus.
Tanpa menjawab Aku menyeruput kopi yang dihidangkannya.
“Tundalah sementara niatmu….” lanjutnya.
“Tapi hati ini terlalu merindukannya….” jawabku.

Saturday, May 26, 2012

[Pemanasan PM-FF] Seratus Kata untuk Kembang

Gema event menulis flash fiction seratus kata di Desa Rangkat terus bergaung. Selalu menjadi topik hangat di setiap kesempatan. Seperti perbincangan yang terjadi malam ini di pos ronda. 

“Ujung pena-ku telah siap menarikan rangkaian seratus kata,” ucap Inin Kribo yakin.

“Saatnya menjajal mantra ajian seratus kata pemberian Ki Ade Bodo…” Hans tak kalah yakinnya.

Thursday, May 17, 2012

Berdebat dengan Penjaga Pintu TKI



13324477041204771842

Entah di kepulangan pada tahun 2008 atau 2009 kisah ini terjadi. Saya agak sulit mengingatnya. Karena secara frekwensi dalam satu tahun kepulanganku ke Indonesia berkisar antara tiga sampai lima kali. Dan setiap kepulangan selalu membawa cerita tersendiri. Tapi semoga diantara Kompasianer yang membaca tulisan ini adalah juga pemeran dalam kisah berikut. Sehingga dapat melengkapi kronologi, dialog, waktu, ataupun kekurangan-kekurangan lainnya. Tapi secara garis besarnya kejadiannya adalah seperti yang diceritakan berikut ini.

**********

Proses boarding untuk maskapai penerbangan Etihad airways Abu Dhabi tujuan Jakarta baru saja dimulai. Dari tengah barisan antrian para penumpang yang sebagian besar adalah rekan-rekan TKW terdengar teriakan. Salah satu rekan TKW kita, sebut saja namanya Minah (bukan nama sebenarnya, cuma untuk kemudahan menceritakan kejadian) tiba-tiba terjatuh dari kursi roda dorong. Minah tertelungkup di lantai dan tak sadarkan diri beberapa saat. Berdasarkan rekomendasi tim paramedis yang membantu, kemungkinan Minah tidak diperkenankan untuk melakukan penerbangan karena dirinya butuh perawatan lanjutan. Minah adalah penumpang transit dari Arab Saudi.

Mengincar Pemegang Paspor TKI di Bandara Soeta

Topik pilihan Kompasiana kali ini yang bertajuk “Kriminalisasi TKI di Bandara” akhirnya menggoda saya untuk ikut menuliskan beberapa opini dan unek-unek selama bersinggungan dengan pelayanan di bandara ini. Sebagai salah satu TKI, keberadaan bandara internasional Soekarno-Hatta adalah bagian dari lokasi peran yang  kujalani semenjak tahun 2006. Keberangkatan dan kedatanganku melalui bandara ini sekitar tiga sampai lima kali setahun.

Liputan atau tulisan keberadaan terminal khusus TKI yang dijadikan “sarang” untuk memeras para TKI yang baru datang kembali ke tanah air sudah tak terhitung jumlahnya. Salah satu cerita tentang pemerasan yang mungkin terjadi di terminal khusus TKI itu bisa dilihat di tulisannya rekan Kompasianer kita Mukti Ali.

Menanti Kepak Sayap Garuda di Timur Tengah



13336255662075517814
Pesawat Boeing 737 milik maskapai penerbangan Garuda Indonesia di Terminal 3, Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Rabu (2/2/2011). (KOMPAS IMAGES/RODERICK ADRIAN MOZES)


Etihad Airways, Emirates Airlines, dan Qatar Airways adalah tiga perusahaan penerbangan besar yang melayani penerbangan dari kawasan Timur Tengah, khususnya dari Qatar dan Uni Emirat Arab (UEA)  ke Jakarta, Indonesia. Disamping juga ada Saudi Arabian Airlines yang melayani rute Jeddah Saudi Arabia – Jakarta.

Untuk rute Jakarta – Saudi Arabia, selain Saudi Arabian Airlines yang merupakan perusahaan penerbangan milik pemerintah Arab Saudi, pemerintah kita melalui Garuda Indonesia juga ikut berkiprah dalam penerbangan jalur ini. Ini tentu bisa dimaklumi, karena selain banyaknya WNI yang bermukim di Arab Saudi sendiri, juga banyak WNI yang kerapkali menggunakan jasa penerbangan untuk jalur ini. Katakanlah sebagai jemaah umroh ataupun jemaah haji. Jadi memang sudah sepantasnya jika sayap Garuda Indonesia juga mengepakkan sayapnya di lintasan jalur ini.

“Cari makan, keringat sampai ke pantat-pantat…..”



“Cari makan disini susah yah bang….. saking susahnya sampe-sampe keringat sampai ke pantat-pantat….” ungkapan ini terlontar dari seorang pengunjung rumah makan restoran Sari Rasa Abu Dhabi Jumat pekan lalu. Tak ada yang menyanggah ucapannya. Dan juga tak ada yang mengiyakan, kecuali hanya tersenyum dengan pendapatnya masing-masing. Setelah berbincang beberapa saat, barulah diketahui ternyata beliau adalah salah satu rekan kita yang berjuang mencari nafkah di bidang konstruksi. Tepatnya beliau bekerja pada proyek Al Reem Island. Salah satu mega proyek yang sedang dikerjakan di Abu Dhabi UAE. Beliau baru beberapa bulan di sini setelah pindah dari Malaysia karena kontrak proyek di Malaysia sudah habis.

Setelah Edi Loreng, Edi Karbit, Edi Tato, Edi Batik… ada lagi Edi Tempos


 
Sebelumnya mohon maaf pada rekanku sesama kompasianer bung Edi Tempos, karena nama anda aku pinjam dalam artikel ini. Sungguh bung, tidak ada maksud apa-apa, malah nama anda membawa ilham dan sumber inspirasi bagiku untuk berbagi cerita tentang “Edi-Edi” yang lain yang pernah singgah dalam kehidupanku. Begitu mengenal dan membaca nama anda, aku jadi tersenyum mengingat teman-teman lamaku. Edi Tempos mungkin hanyalah sebuah “nickname” atau bahasa kerennya nama panggilan ataupun nama julukan agar mudah diingat dan terkesan berbeda. Sungguh, anda beruntung mempunyai nickname yang keren dan rada-rada gimana gitu….?? Hehehehe…. Btw, Tempos apaan sih artinya? Kalo gak salah adalah orang yang pantatnya nggak montok-montok amat, alias nggak berisi. Makanya disebut orang tempos, tul gak…???

Sebelas Tahun Sudah, Sekarang Aku Pulang…

 

“Aku pulang….. Dari rantau, bertahun-tahun di negeri orang….”

Ceria dan berbinar-binar, kesan itulah yang ku tangkap dari sorot mata pria yang sudah tidak tergolong muda ini. Pertemuan singkat dengannya terjadi kira-kira tiga atau empat hari sebelum ramadhan di salah satu restoran Indonesia di Abu Dhabi pada saat makan malam. Dengan bersahaja dia memperkenalkan namanya Suriyatno atau Supriyono, aku sedkit lupa dengan namanya. Berasal dari Purwokerto…. atau Purwakarta…. Ah, lagi-lagi aku lupa dari mana asal kotanya. Tapi kemungkinan dari Purwokerto sih, karena kalau dari Purwakarta tentulah namanya Supriyatna atau Supriyana… Apa hubungannya…???
Setelah ngobrol ngalur ngidul dengan bapak ini, ternyata si bapak baru saja mengambil tiket penerbangan Etihad Airways untuk pulang ke Indonesia besok dinihari. Juga baru saja dia menyelesaikan acara berbelanja oleh-olehnya. Dua kantung plastik ukuran raksasa dan satu tas koper sudah penuh dan siap dibagikan isinya begitu kaki menginjak kampung halaman. Terang saja wajahnya begitu ceria, karena pulang ke kampung halaman adalah impian setiap perantau. Tentu sudah terbayang dibenaknya bahwa sebentar lagi akan segera berkumpul dengan keluarga, sanak family, teman, dan handai taulan.

Ngembat Jatah Sahur Tetangga (Dukanya Anak Kost)

//www.google.com/images



Menjalani ibadah puasa di bulan ramadhan sebagai anak kost banyak suka dukanya. Sukanya adalah, kita akan merasa bangga bisa mandiri dalam menjalankan ibadah puasa, meskipun jauh dari orang tua. Tapi dukanya juga banyak, terutama pada saat-saat sahur.

Dengan terpaksa harus mencari makanan di warung-warung terdekat di tengah malam buta. Itupun kalau tidak kesiangan. Kalau kesiangan, yah… dengan terpaksa pula harus berpuasa tanpa makan sahur. Atau bahasa kerennya adalah ngirit….. Kalau puasa tanpa makan sahur bagiku itu adalah hal yang sangat biasa pada waktu masih bujangan dan hidup sebagai anak kost. Tapi kalau sampai makan jatah sahur milik tetangga, itu adalah pengalamanku yang paling ku benci….

I Hate Monday (Hardiknas-Rangkat)

“I hate Monday……… Aku benci hari Senin………!!”

Kalimat itu begitu familiar sejak zaman sekolahan dulu. Yah, karena pada hari itu jam sekolah serasa tidak berjalan. Menit ke menit bergerak sangat lambat. 

Hari yang menjengkelkan……. Karena hari Senin selalu diawali dengan upacara bendera. Berbaris rapi dan berjemur ria. Mengangkat tangan memberi hormat. Dan sama-sama menyanyikan lagu kebangsaan. (Ketahuan banget nih, waktu sekolahnya dulu adalah pemalas)

Pendapatan Hilang Jika Ketahuan Melanggar

1325971804742747379
Kota Abu Dhabi (image from http://www.abudhabi.ms/ )

Satu email singkat masuk ke inbox emailku beberapa hari yang lalu. Email yang berasal dari salah satu departemen di tempatku bekerja itu berisi tentang pemberlakuan sistem denda yang akan diberlakukan oleh pemerintah kota Abu Dhabi, Uni Arab Emirat (UAE). Denda yang dimaksudkan untuk menghukum pelanggar atau pelaku yang tidak mentaati peraturan kebersihan kota.

Merujuk dari informasi dalam email tersebut, aku mencoba menggali beberapa informasi terkait. Dari sumber harian Khaleej Times tertanggal 3 Januari 2012, disebutkan bahwa Pemerintah kota Abu Dhabi akan menegakkan peraturan ketat tentang kebersihan. Dan mengenakan denda hingga mencapai 500 Dirhams (Dirhams adalah mata uang UAE) untuk meludah, membuang puntung rokok atau menjatuhkan permen karet di jalanan di Ibukota. 500 Dirhams jika dikonversikan ke mata uang rupiah adalah sekitar hampir 1.250.000 Rupiah. 1 Dirhams saat ini berkisar sekitar 2500 Rupiah.

TKI Menembus Pegunungan Batu Fujairah UAE (Habis#2)



12907539691179302710
Pembangunan yang terus menggeliat di Fujairah

Sebelumnya (Bagian-1)

Jatuh cinta pada pandangan pertama. Itulah tampaknya yang kualami ketika kami masuk dan memarkirkan kendaraan di salah satu jalan protokokol kota ini, Fujairah. Cuaca dingin sejuk dengan hembusan angin yang membawa aroma laut segera menerpa kami begitu turun dari mobil. Kota Fujairah memang indah, di sudut belakang dikelilingi pegunungan batu yang sambung menyambung. Dan disudut lainnya langsung menghadap ke teluk Oman. Sungguh perpaduan alam yang eksotik.