Sunday, August 12, 2012

[ECR-5] Merelakan Ranti



Postingan kisah ECR-5 yang terkait sebelumnya: Ma, Aku Mau Menikah (oleh Yety ursel), Di Atas Sejadah Mama (oleh El Hida)
Andai semua mimpi dapat terwujud indah, maka aku akan bermimpi se-mau yang aku suka. Andai semua angan dapat kugapai tanpa cela, maka akan kutembuskan anganku melewati batas cakrawala. Memilikimu adalah mimpi yang terindah. Dan melabuhkan hati padamu adalah pengharapanku yang sebenarnya. Tapi merelakanmu adalah hal terhormat dalam wujud kelelakianku. Selain sebagai bentuk pertanggungjawabanku atas segala duka penantianmu.
Ketakutanku bukan pada masa lalu. Karena masa lalu adalah torehan waktu yang tak dapat kembali kurengkuh. Ketakutanku adalah ketika datangnya sang waktu yang akan membawamu berlalu. Kemudian menempatkanmu pada batas sekat yang bernama aturan, etika dan logika. Dimana aku diharamkan untuk menyibak dan menembusnya.

Wednesday, August 8, 2012

[FF] Maaf, Aku Ada Diantara Kalian



Waktu berbuka puasa tinggal setengah jam lagi. Setelah antri mengambil makanan dan membayarnya di kasir, Fahmi bergegas mencari kursi kosong. Tapi dirinya kurang beruntung, semua kursi telah terisi penuh.
“Silahkan ke sebelah sana, Bang… Masih bisa kalau buat Abang sendirian..” seorang pelayan menyapanya sambil menunjuk ke arah pojok belakang restoran cepat saji itu.
Fahmi berjalan mengikuti arah telunjuk sang pelayan. Nampan makanan berisi nasi, dua potong Ayam goreng, semangkuk kecil sop bening, dan sebotol air mineral dibawanya dengan hati-hati. Mata Fahmi memandang sekeliling, mencari kursi kosong yang dimaksudkan.

Tuesday, August 7, 2012

Kupu-kupu untuk Jingga




*) Jingga Rangkat
____________________
“Lihat itu…!! Kamu masih ingat nggak…?” Hans menunjuk seekor Capung yang hinggap di tangkai bunga Gladiol.
Mata Jingga mengikuti arah telunjuk Hans. Keningnya berkerut kebingungan. Tidak mengerti apa yang Hans maksudkan.
“Capung….?” bibir Jingga bergumam.
“Iya…. Capung itu..!”
Kembali mata Jingga menatap Capung itu.
“Ah, nggak ngerti. Aku nggak ingat…” Jingga menyerah.
“Oke, kalau yang itu…?” Hans menunjuk seekor Kupu-kupu pada pucuk bunga Gladiol lainnya.

Monday, August 6, 2012

Pada Tapak Jejak Eksotis Gurun



menapak jejak mengarungi hamparan gurun



Pada hamparan luas yang seakan tak berbatas. Sejauh mata memandang hanyalah hamparan gersang. Kering, tandus, panas, garang, dan penuh perjuangan, itulah kesan yang tersematkan. Manakala kaki mulai melangkah menapak mengarungi beratnya perjuangan di gurun yang seperti ruang tak bertuan.
Sejauh kaki mengayun, sekuat nafas bertahan, hidup di gurun adalah perjuangan. Mencari aura romantisme kehidupan gurun bagaikan memendam kerinduan yang tertahan. Pesona romantisme sejenak terkalahkan oleh beratnya perjuangan untuk bertahan. Hanya yang terkuat dan mampu menyesuaikan dengan alam gurun yang mampu bertahan.

[ECR-5] Bau Kepiting Juragan Gadungan




*) Bocing dan Ranti (doc. Desa Rangkat)
___________
Dua jam sudah Hans dan Dorma, Hansip wanita keamanan khusus balai desa menunggu, namun Ranti masih belum juga kelihatan batang hidungnya. Dorma selalu berdiri setiap kali ada suara motor menderu di jalanan, berharap itu adalah El Hida yang berboncengan dengan Ranti. Perutnya sudah bersenandung riuh menahan lapar. Bayangan Ranti yang datang membawa rantang makanan siang bermain di imajinasinya.
“Kok kakak Ranti masih belum nongol? Sudah lapar tingkat akut, nih…” Dorma menggerutu.
“Kamu susul ke rumahnya, deh. Jangan-jangan Ranti kelupaan…” perintah Hans.
Tanpa menunggu perintah kedua kali, Dorma langsung berangkat. Tinggal Hans seorang diri di kantor desa dengan perut yang mulai bergemuruh nyaring. Tangannya sibuk berulangkali memencet HP jadulnya. Nomor HP milik Ranti yang dihubunginya selalu memberikan jawaban bahwa ponselnya sedang tidak aktif.

Sunday, August 5, 2012

[ECR-5] Pada Serpihan Hati Jingga dan Ranti




*) Sebagian pemeran ECR di postingan ini (doc. Desa Rangkat)
Suasana kantor desa yang lenggang makin terasa senyap ketika Cicie Kim Foeng juga berpamitan untuk pulang. Memang sudah waktunya bagi pegawai kantor desa untuk mengakhiri tugasnya melayani masyarakat hari ini. Cicie Kim Foeng yang biasanya hanya bertugas membantu Acik dalam mengagendakan kegiatan-kegiatan kepala desa, kini harus merangkap tugas ganda. Kadang harus menggantikan Asih sebagai sekretaris desa, kadang juga menggantikan Acik sebagai sekretaris pribadi kepala desa.