Showing posts with label HL. Show all posts
Showing posts with label HL. Show all posts

Thursday, November 15, 2012

Pos Ronda di Kompasianival 2012


Komunitas yang akan memeriahkan Kompasianival 2012


“Loohh…? Toloooong…!! Ada gempa bumi..!!” Inin Kribo terlonjak dari dengkuran panjangnya.
Sambil membenarkan sarung kotak-kotak lusuhnya, Inin Kribo belingsatan mencari sandalnya. Matanya masih setengah membuka, antara sadar dan tidak. Karena limbung, kembali Inin Kribo jatuh terlentang.
“Wooii, Kang Kribo…! Jangan panik, ini bukan gempa bumi….!” Fietry berteriak sambil terkekeh riang.
Inin Kribo tetap belum menyadari apa yang telah terjadi. Dirinya semakin heran karena singgasana Pos Ronda tempatnya mendengkur pagi itu selepas sholat Subuh diangkat warga beramai-ramai. Rombongan warga yang dikomandani Bocing beserta pasukannya, Pongky, Fietry, Cupi, Fidia, Windu, dan warga desa lainnya terus bersemangat mengangkat Pos Ronda. Lalu memindahkannya ke atas truk yang sudah menunggu di halaman kantor Desa.
“Looohh ini Pos Ronda, teh…. Mau dibawa kemana?” Inin Kribo semakin heran.
“Mau dipindahkan dulu sementara, ke KOMPASIANIVAL…!!” teriak pak RT Ibay sambil memberi aba-aba.

Thursday, November 1, 2012

Ketika kita Bicara Cinta





Bandung menjelang petang, pada Jumat 19 Oktober lalu. Tepat sehari sebelum Komunitas DESA RANGKAT merayakan hari ulang tahunnya yang ke-2. Lalulintas padat merayap langsung menyambut ketika kendaraan travel yang membawaku dari bandara Soeta Jakarta keluar dari pintu tol Pasteur. Ke arah Lembang kendaraan menuju. Patokanku adalah Rumah Sosis di jalan Doktor Setiabudi. Dari sana nanti Aku akan menelpon untuk dijemput teman-teman Rangkaters yang sudah lebih dulu tiba di villa Lentera Merah, yang letaknya tidak jauh dari Rumah Sosis. Villa Lentera Merah adalah tempat teman-teman Komunitas DESA RANGKAT tahun ini akan berkumpul.
“Ini Rumah Sosisnya, Sep. Asep mau turun di sini..?” tegur sopir dengan logat Sunda kentalnya.
“Ya, ya.. di sini..!!” sahutku riang. Panggilan “Asep”, “Acep”, ataupun “Cep” dari pak sopir padaku telah membuatku melambung. Seketika nuansa Sunda merasuk jiwaku. Bandung… Asep datang…!!
Tak lama menunggu, Pongky sang Kompasianer Jakarta datang menjemputku dengan sepeda motor. Jabat tangan dan pelukannya begitu hangat.
Sesampai di villa Lentera Merah, Dorma Situmorang, si adik manis yang kebagian menjadi tuan rumah Kopdar Akbar kali ini telah menungguku di teras. Tidak banyak yang berubah pada raut wajahnya. Persis seperti Juli tahun lalu ketika kami bertemu di kota ini sepulangku dari Kopdar Akbar Desa Rangkat di Yogya. Smart, polos, dan apa adanya adalah karakter menonjol pada pribadinya.
“Mas Hans… Akhirnya kita ketemu lagi..!!” sambutnya dengan pelukan hangatnya.

Thursday, May 17, 2012

Berdebat dengan Penjaga Pintu TKI



13324477041204771842

Entah di kepulangan pada tahun 2008 atau 2009 kisah ini terjadi. Saya agak sulit mengingatnya. Karena secara frekwensi dalam satu tahun kepulanganku ke Indonesia berkisar antara tiga sampai lima kali. Dan setiap kepulangan selalu membawa cerita tersendiri. Tapi semoga diantara Kompasianer yang membaca tulisan ini adalah juga pemeran dalam kisah berikut. Sehingga dapat melengkapi kronologi, dialog, waktu, ataupun kekurangan-kekurangan lainnya. Tapi secara garis besarnya kejadiannya adalah seperti yang diceritakan berikut ini.

**********

Proses boarding untuk maskapai penerbangan Etihad airways Abu Dhabi tujuan Jakarta baru saja dimulai. Dari tengah barisan antrian para penumpang yang sebagian besar adalah rekan-rekan TKW terdengar teriakan. Salah satu rekan TKW kita, sebut saja namanya Minah (bukan nama sebenarnya, cuma untuk kemudahan menceritakan kejadian) tiba-tiba terjatuh dari kursi roda dorong. Minah tertelungkup di lantai dan tak sadarkan diri beberapa saat. Berdasarkan rekomendasi tim paramedis yang membantu, kemungkinan Minah tidak diperkenankan untuk melakukan penerbangan karena dirinya butuh perawatan lanjutan. Minah adalah penumpang transit dari Arab Saudi.

Mengincar Pemegang Paspor TKI di Bandara Soeta

Topik pilihan Kompasiana kali ini yang bertajuk “Kriminalisasi TKI di Bandara” akhirnya menggoda saya untuk ikut menuliskan beberapa opini dan unek-unek selama bersinggungan dengan pelayanan di bandara ini. Sebagai salah satu TKI, keberadaan bandara internasional Soekarno-Hatta adalah bagian dari lokasi peran yang  kujalani semenjak tahun 2006. Keberangkatan dan kedatanganku melalui bandara ini sekitar tiga sampai lima kali setahun.

Liputan atau tulisan keberadaan terminal khusus TKI yang dijadikan “sarang” untuk memeras para TKI yang baru datang kembali ke tanah air sudah tak terhitung jumlahnya. Salah satu cerita tentang pemerasan yang mungkin terjadi di terminal khusus TKI itu bisa dilihat di tulisannya rekan Kompasianer kita Mukti Ali.

Menanti Kepak Sayap Garuda di Timur Tengah



13336255662075517814
Pesawat Boeing 737 milik maskapai penerbangan Garuda Indonesia di Terminal 3, Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Rabu (2/2/2011). (KOMPAS IMAGES/RODERICK ADRIAN MOZES)


Etihad Airways, Emirates Airlines, dan Qatar Airways adalah tiga perusahaan penerbangan besar yang melayani penerbangan dari kawasan Timur Tengah, khususnya dari Qatar dan Uni Emirat Arab (UEA)  ke Jakarta, Indonesia. Disamping juga ada Saudi Arabian Airlines yang melayani rute Jeddah Saudi Arabia – Jakarta.

Untuk rute Jakarta – Saudi Arabia, selain Saudi Arabian Airlines yang merupakan perusahaan penerbangan milik pemerintah Arab Saudi, pemerintah kita melalui Garuda Indonesia juga ikut berkiprah dalam penerbangan jalur ini. Ini tentu bisa dimaklumi, karena selain banyaknya WNI yang bermukim di Arab Saudi sendiri, juga banyak WNI yang kerapkali menggunakan jasa penerbangan untuk jalur ini. Katakanlah sebagai jemaah umroh ataupun jemaah haji. Jadi memang sudah sepantasnya jika sayap Garuda Indonesia juga mengepakkan sayapnya di lintasan jalur ini.

TKI Menembus Pegunungan Batu Fujairah UAE (#1)

12906892161109445790
Wilayah Fujairah yang didominasi pegunungan batu yang menjulang
Butuh usaha keras bagi seorang teman untuk bisa meyakinkan bahwa kunjungan ke kota Fujairah ini akan menjadi kunjungan yang berkesan dan mengasyikkan. Bagaimana tidak, lebih dari 400 KM jarak yang harus kami tempuh dari tempat persemedian kami di lembah gurun Habshan. Habshan adalah bagian dari Abu Dhabi yang terletak di sebelah Selatan dari wilayah  Uni Arab Emirates (UAE). Merupakan kawasan gurun pasir yang dibawahnya terdapat kandungan gas dan minyak bumi yang berlimpah.

Dari Maya Menjadi Nyata di Pojok Baca Rangkat


13344885901565390337

Layaknya sebuah desa yang nyata, ketika menggelar hajatan ataupun kegiatan desa yang melibatkan semua warganya, maka seluruh warga desanya akan sibuk bahu membahu mensukseskan hajatan itu. Begitupun yang terjadi di DESA RANGKAT (DR) dua bulan terakhir ini. Kegiatan warga (baca; Anggota Komunitas) DESA RANGKAT untuk berbagi kasih dan kepedulian dengan mendirikan taman bacaan yang diberi nama “Pojok Baca Rangkat” disambut dan diapresiasi sangat luar biasa oleh seluruh anggotanya.

Dan segala dukungan, sokongan, dan sumbangsih semua anggota Komunitas DR, maka kemarin pada hari Sabtu tanggal 14 April 2012 taman bacaan ini berhasil diresmikan. Taman bacaan ini didirikan di Yayasan Dulur Salemburyang berlokasi di Jl. Raya Serdang Kulon, Rt.09/06 No. 20, Kp. Serdang, Desa Serdang Kulon, Kec. Panongan, Tangerang Banten. Suatu yayasan yang peduli pada anak-anak yatim piatu dan masyarakat yang kurang mampu.

Untaian Aksara Maya Terjalin Nyata di Ultah Desa Rangkat


13193439311264098266


Untaian Aksara Maya Terjalin Nyata, buku pertama yang dilaunching pada HUT Desa Rangkat di villa La Citra Kota Bunga cipanas

Berawal dari kerinduan akan sebuah ikatan tali silaturahmi. Disatukan oleh kecintaan yang sama dalam merangkai kata. Menyampaikan buah pikiran, menuangkan imajinasi lewat karya tulis. Sebuah Desa impian telah tercipta dan lahir di dunia maya, Desa Rangkat Namanya.

Disini kami tumbuh bersama, saling mendukung laksana saudara. Menepis jarak yang ada antara maya dan nyata. Meski datang dari berbagai latar belakang yang berbeda beda. Tak ada batas antara si miskin dan si kaya, tua ataupun muda.

Waktu berlalu tanpa terasa , banyak peristiwa yang telah terjadi. Langkah tak selamaya mulus , kadang tertatih. Laksana anak kecil yang tengah belajar berjalan. Dukungan dan cibiran adalah sebuah pembelajaran. Kami tetap bergandengan tangan.

Tuesday, May 15, 2012

Antara Abu Dhabi dan Jakarta (Etihad..???)

Tampak depan pintu terminal keberangkatan khusus Etihad Airways Abu Dhabi International Airport
Tampak depan pintu terminal keberangkatan khusus Etihad Airways Abu Dhabi International Airport


“Which terminal…., Pare..??” tegur sopir yang asli Pakistan ini memecah kesunyian saat taksi yang kutumpangi telah masuk areal bandara. Langsung saja kubilang ke terminal keberangkatan Etihad Airways. Eh, kok aku di panggil “Pare” sih?. Yang jelas “Pare” adalah panggilan akrab untuk laki-laki asal Filipina. Mungkin karena susah bagi mereka untuk membedakan wajah Filipina dan wajah Indonesia yang memang hampir tidak ada bedanya. Terus kalaupun mereka tahu aku berasal dari Indonesia, apakah mereka akan memanggilku dengan panggilan mas, bang, kang, ataupun cak? Rasanya belum ada deh orang asing yang memanggilku seperti itu, hehehehe.
Waktu hampir menunjukkan jam 22.30 malam saat taksi merapat di pelataran parkir terminal Abu Dhabi International Airport. Meskipun baru menginjakkan kaki di depan pintu terminal keberangkatan rasanya bayangan Indonesia sudah di pelupuk mata. Seolah-olah Indonesia ada di balik pintu keberangkatan itu, padahal masih ribuan kilometer lagi yang harus ditempuh dengan penerbangan sekitar delapan jam lebih. Terakhir kali aku pulang ke Indonesia belum genap tiga bulan yang lalu, tapi rasa kangen akan negeri tercinta selalu membuncah di dada. Apalagi disaat-saat kepulangan ke tanah air sudah dekat. Memang benar kata orang tak ada tempat terindah kecuali di negeri sendiri, setidaknya itulah yang kualami dan kurasakan meskipun telah tiga tahun lebih terdampar mencari peruntungan di Abu Dhabi.
Beberapa langkah menjelang pintu masuk terminal, disebelah kanan pintu kulihat beberapa orang asyik mengepulkan asap rokok. Yah, ini adalah tempat favorit bagi perokok sebelum masuk ke dalam pintu utama bandara. Soalnya begitu masuk bandara agak susah mencari tempat untuk merokok. Kulihat jam masih terlalu dini untuk check in, karena pesawat yang ke Jakarta nantinya baru akan boarding sekitar jam 01.45. Artinya masih ada banyak waktu untuk berhembus ria dengan asap rokok. Dengan langkah tegap sempurna langsung aja belok kiri bergabung dengan mereka untuk memberi andil polusi udara melalui sebatang dua batang rokok.
Bagiku merokok bukan hanya sekedar wujud untuk memberikan andil dan sumbangsih bagi polusi dunia, tapi juga merupakan ajang silaturahmi. Mau buktinya? Setelah bergabung dengan mereka di smoking area itu, aku langsung terlibat perbincangan akrab dengan dua orang diantara mereka yang ternyata adalah arek Malang. Coba kalau aku tidak ikutan merokok dengan mereka, belum tentu aku dapat teman baru, hehehehe.