Saturday, November 10, 2012

[FF100K] Fahmi Si Pejuang Berani Mati



Flash Fiction 100 kata di Hari Pahlawan

Gambar dari sini

******
BUUGG..!! Satu hantaman kembali bersarang di rahang Fahmi. Namun Fahmi berusaha untuk tetap tersenyum. Meski tubuhnya lunglai terikat, namun semangat perjuangannya tetap menggelora.
“Hei, ekstrimis Republik…!! Di mana kamu punya pasukan bersembunyi..?” Jenderal Willem mengulang pertanyaannya. Muka sang Jenderal begitu dekat, hingga Fahmi bisa mencium aroma Voddka dari mulutnya.
“Piiuuhhh….!!” Fahmi meludah, tepat bersarang di muka sang Jenderal.
“Aku tidak akan pernah menghianati pasukanku. Kesetiaanku adalah harga mati untuk Republik ini…!!” lantang Fahmi berteriak.
“Kurang ajar…!!” Jenderal Willem mengeluarkan pistolnya.
“Tembak saja..!!”
DOORR..!!
Pistol sang Jenderal memuntahkan pelurunya. Fahmi tersungkur. Satu lagi anak Negeri telah mati demi sebuah harga. Kemerdekaan.
******
* FF 100 kata lainnya di Hari Pahlawan: Fahmi dan Jimat Kebal Anti Bedil

Thursday, November 1, 2012

Ketika kita Bicara Cinta





Bandung menjelang petang, pada Jumat 19 Oktober lalu. Tepat sehari sebelum Komunitas DESA RANGKAT merayakan hari ulang tahunnya yang ke-2. Lalulintas padat merayap langsung menyambut ketika kendaraan travel yang membawaku dari bandara Soeta Jakarta keluar dari pintu tol Pasteur. Ke arah Lembang kendaraan menuju. Patokanku adalah Rumah Sosis di jalan Doktor Setiabudi. Dari sana nanti Aku akan menelpon untuk dijemput teman-teman Rangkaters yang sudah lebih dulu tiba di villa Lentera Merah, yang letaknya tidak jauh dari Rumah Sosis. Villa Lentera Merah adalah tempat teman-teman Komunitas DESA RANGKAT tahun ini akan berkumpul.
“Ini Rumah Sosisnya, Sep. Asep mau turun di sini..?” tegur sopir dengan logat Sunda kentalnya.
“Ya, ya.. di sini..!!” sahutku riang. Panggilan “Asep”, “Acep”, ataupun “Cep” dari pak sopir padaku telah membuatku melambung. Seketika nuansa Sunda merasuk jiwaku. Bandung… Asep datang…!!
Tak lama menunggu, Pongky sang Kompasianer Jakarta datang menjemputku dengan sepeda motor. Jabat tangan dan pelukannya begitu hangat.
Sesampai di villa Lentera Merah, Dorma Situmorang, si adik manis yang kebagian menjadi tuan rumah Kopdar Akbar kali ini telah menungguku di teras. Tidak banyak yang berubah pada raut wajahnya. Persis seperti Juli tahun lalu ketika kami bertemu di kota ini sepulangku dari Kopdar Akbar Desa Rangkat di Yogya. Smart, polos, dan apa adanya adalah karakter menonjol pada pribadinya.
“Mas Hans… Akhirnya kita ketemu lagi..!!” sambutnya dengan pelukan hangatnya.

Thursday, October 11, 2012

Selamat Pagi, Natasha…



Seperti biasanya, pagi ini langkahku begitu ringan. Menyusuri tiap koridor yang bernuansa minimalis. Dua belokan lagi aku akan tiba tepat di depan pintu ruangan kantormu. Tak sabar hati ini ingin segera melihat lengkung senyummu. Seperti pucuk pohon yang selalu merindu sang mentari di awal pagi.



Monday, September 24, 2012

[FF100K-RCS] Di Sebelah Kembang



Hans memeriksa kembali daftar nama peserta Kopdar Akbar HUT Desa Rangkat yang akan berangkat ke Bandung. Daftar nama itu disusun berdasarkan tempat duduk di bus yang akan mereka sewa. Kopdar dengan tema “Rangkat Cinta Sederhana” itu akan dilaksanakan pada tanggal 19-21 Oktober nanti.
“Ibay dan Jingga, Aya dan Bocing, Yety dan El, Kembang dan Rizal…… What`s…..??!!” Hans berteriak kaget.

Friday, September 14, 2012

[FF100K-RCS] Icha dan Logika Rasa





“Belantara ini terlalu rimbun, tiap dahannya terlalu rumit untuk diurai. Aku khawatir kelopak-kelopak bunganya akan terberai ketika coba digapai…” ceracau Hans.
“Rumit amat, mas…” sungut Icha kesal.
“Andai kelopaknya terjatuh, lalu terberai luluh lantak…. Apakah mahkotanya masih terlihat anggun…?” Hans terus berceracau.

Wednesday, September 12, 2012

[FF100K] Rasa Ini





Adakah diam yang tidak ambigu…? Bagaimana Aku menikmati rasa, jika diam-mu bias tanpa sketsa…?” runtutan tanyamu sesaat sebelum berlalu.
Dirimu dan kotak hijau-mu beranjak menjauh, mengecil, lalu lenyap di ujung senja. Bersama keping-keping rasa yang terlanjur terserak. Aku hanya terdiam, meski raga menggodaku untuk beriak. Keping rinduku dan keping harapku kini berpendar dalam balutan absurd tak berbentuk, luluh lantak.

Monday, September 10, 2012

[FF100K-RCS ] Bias Ambiguitas

 
gambar dari sini

Kisah ini memang tidak seheroik panggung operanya Romeo dan Juliet karya William Shakespeare. Juga tidak seromantis intrik-nya Mark Antony, yang jatuh hati pada Cleopatra, si ratu cinta dari Mesir.
Jangan pula berharap Aku bisa memberikan seperti yang Shah Jahan berikan pada Mumtaz Mahal. Untuk membangun makam agung untuk jasadnya berupa Taj Mahal. Aku juga tak mampu memerankan tokoh seorang Yusuf yang mampu menolak moleknya Zulaikha.